Legenda Jenggot Sakti (Part I)

Pada jaman dahulu kala, sebelum saya dan anda terlahir ke dunia ini, di sebuah desa terpencil diantara desa-desa yang paling kecil, hiduplah seorang remaja yang memiliki paras yang tidak sewajarnya, sebut saja Jenglot (bukan nama sebenarnya, red). Sebenarnya, remaja tersebut masih berusia 19 tahun, namun karena faktor genetika yang tak kunjung di imunisasi, maka tumbuhlah kumis dan jenggot yang lebat hingga hampir menutupi seluruh bibirnya. karena keaadaannya yang seperti itu, ia juga mengalami kesulitan untuk makan, malah kadang karena saking lebatnya, kumis dan jenggotnya sering ikut termakan yang membuatnya mudah tersedak.
Tak hanya itu, setiap detik ia selalu dilecehkan oleh tetangganya, teman-teman sekolahnya, juga Pak Lurah serta perangkat desa lainnya, bahkan presiden dan kabinetnya pun turut serta untuk melecehkannya karena begitu buruknya rupa si Jenglot. Tidak hanya manusia yang jijik memandang parasnya, pemirsa, menurut saksi yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara, red) Tumbuh-tumbuhan yang berada dalam radius 309,76 m darinya, mendadak layu. Hal inilah yang mengakibatkan turunnya nilai rupiah di pasaran. Kerugian yang diderita para empunya lahan berkisar 1 hingga 3,5 triliun.
"Saya ingin jenggot si Jenglot itu dicukur habis, karena saya rasa jenggot yang tumbuh itu merupakan kutukan bagi siapa yang menonton tau menyentuh jenggotnya, baik secara sengaja maupun tidak."
Seperti itulah pernyataan yang muncul dari mulut penduduk ketika di tanya tentang Jenglot. Karena tidak betahnya penduduk dan disebabkan oleh hancurnya pemandangan kampung akan wajah Jenglot, mereka beramai-ramai menciptakan demonstrasi yang menuntut agar jenglot dimutasikan ke luar pulau yang tak berpohon dikarenakan wajahnya yang norak menyumbangkan global warming di kampung tersebut. Tekanan dari warga itu tak membuat Jenglot mundur dalam menghadapi problema kehidupan, namun ia malah melarikan diri ke dalam hutan amazon yang lebat akan tumbuhan bambunya. 
Ketika ia melewati sebuah sawah, dari jauh ia melihat seonggok anak kecil yang sedang bermain lumpur. Jenglot yang tak ingin mengganggu anak tersebut dengan wajahnya, mencoba berjalan melewati anak tersebut dengan memalingkan muka. Tapi, ternyata anak tersebut merasakan kehadiran si Jenglot. Tanpa mengajukan proposal sebelumnya, anak kecil tersebut berteriak,
"Om, mau cabut undian berhadiah dong om!!"
Jenglot yang shock karena jenggotnya dianggap media undian berhadiah langsung terperosok ke sebuah lubang lumpur yang entah darimana munculnya. Anak kecil yang berlari menuju kearahnya segera menarik sehelai bulu jenggot milik Jenglot. Kemudian anak tersebut mengutarakan kekecewaannya sambil pergi meninggalkan Jenglot yang posisinya masih terperosok dan berlumuran noda lumpur.
"Yah, om, gue kagak dapet mainan yoyo nih om."
Jenglot yang menahan sakitnya mencoba berdiri, ia menuju ke sebuah kolam pemancingan. ditanggalkannya semua pakaian yang dikenakannya. Dengan berbekal sebuah ramuan yang mengandung unsur-unsur kimia campuran dari biologi terapan matematika dan memiliki kadar busa tingkat rendah serta tidak pedih di mata, (sekarang disebut shampoo, red).............

to be continued....

0 komentar:

Post a Comment

Ayo ayo kasih komentar!!!

Buruan!!
Sebelum Kehabisan!!! (.^^)9